Dear Millennials,
Mau cerita nih tentang retret yang lalu, sebuah pengalaman yang diawali dari pemikiran yang sudah lama bertemu dengan gagasan yang sedang di garap; lahirlah tema retret yaitu relevan.
Mau cerita nih tentang retret yang lalu, sebuah pengalaman yang diawali dari pemikiran yang sudah lama bertemu dengan gagasan yang sedang di garap; lahirlah tema retret yaitu relevan.
Buat saya persiapan kali ini terasa lebih singkat dibanding sebelumnya, meskipun jangka waktu nya tidak berbeda jauh dengan retret 2 tahun lalu. Mungkin terasa seperti itu karena tantangan yang 'ada-ada saja' menghampiri tim panitia. Dari bingung, kesel, sampai geleng-geleng kepala sendiri. Diluar dugaan, kami pun retret di tempat yang sama dengan rapat pleno umum gereja kami. Sehingga selain mengurus acara retret, kami juga harus berkoordinasi dengan tim panitia rapat pleno. Saat peristiwa beruntun terjadi, tim panitia tetap berusaha mengerjakan sesuai timeline. Tentu kami melakukan rapat, renungan singkat, doa mingguan melalui WA, dan saling berkomunikasi. Secara pribadi, saya pun berdoa dalam masa dag-dig-dug ini. Ya, saya banyak dag-dig-dug melalui proses ini; sebuah pengalaman serupa namun tak sama.
Meskipun dalam perjalanan menuju hari-h ada banyak hal yang tidak berjalan sesuai harapan (menurut saya). Tapi ya sudah, tak perlu ngotot' yang penting acara bisa berjalan sesuai esensi. Saat waktu itu datang, wah, seperti pernyataan: semua indah pada waktunya Tuhan. Acara dan tempat kami sederhana, bahkan tempatnya dibawah ekspektasi kami.
Tetapi, entah mengapa saya tidak terlalu kecewa. Mungkin karena, kami berangkat sampai ke Bumi Gumati dengan lancar, bahkan sampai sebelum waktunya. mendengar keseluruhan dari materi yang disampaikan, wah, saya tidak menduga bahkan bagus sampai saya bahagia juga bisa mendapat pemahaman mendalam secara praktis. Testimonial panitia dan partisipan juga baik secara keseluruhan. Mereka mendapat pengertian serta perspektif khususnya tentang keluarga dan pekerjaan. Melihat semua bisa menikmati acara, makanan yang cukup untuk semua orang, teman-teman dewasa muda senior dan muda yang saling bercengkrama ... Rasa syukur, lega, damai sejahtera, terharu, lelah, kesal semua jadi satu, hingga hari ini. Sebuah kebahagiaan tersendiri melihat kerja keras bersama ini dapat 'terbayarkan'.
Jika kembali ke titik awal saat saya diminta menjadi pemimpin retret, saya sadar akan keadaan emosi dan spiritual diri yang kurang stabil. Namun, saya tidak ingin terbuai dengan keadaan. Justru saya mendorong diri untuk berserah kepada Tuhan serta berjanji mengerjakan komitmen ini bersama Tuhan. Dalam perjalanan, saya mengalami proses memahami kembali tentang relevansi iman dan realita ini dengan rasa takjub. Karena siapa yang tahu, ternyata pengalaman yang pernah saya alami dulu dan saat ini, dapat menolong seseorang yang (mungkin) juga sedang mencari relevansi iman dan hidupnya.
Saya makin memahami bahwa bijaksana yang tertulis dalam Alkitab masih relevan dengan kehidupan saat ini. Secara esensi, kebenaran Firman Tuhan dapat masuk dalam segala aspek hidup manusia. Bahkan dalam jaman hi-tech, post-modern, beragam filosofi, serta kepercayaan lainnya, terlihat bahwa bijaksana Firman Tuhan masih bisa relevan dengan jaman tersebut.
Jadi, jika kamu merasa hidup mu sebagai kristen tidak ada relevansinya. Mungkin kamu harus memeriksa diri di hadapan Tuhan. Karena semua orang yang terlibat dalam acara ini pun melewati fase memeriksa diri dan sekarang, mereka sedang berproses. Semoga saja, mereka tetap berjuang bersama Tuhan serta kamu punya keberanian untuk hidup Relevant: Live Your Life to The Fullest.
Dari,
Eveline Meilinda
Comments
Post a Comment