Dear Millenials,
Akhirnya, saya bisa lanjut tulis artikel melepaskan! Nah, kalau sekarang mari berbicara lebih detil tentang topik melepaskan. Semoga opini saya ini dapat menjadi 'cemilan'. Sebab pembahasan ini sebatas hasil pengalaman dan memiliki kategori cukup luas.
Bila direnungkan selewat, seringkali manusia tidak mampu melepaskan karena terdapat kesenangan maupun pencapaian yang belum tercapai. Dari pengalaman pribadi, kadang saya berpikir melepaskan akan menjadikan diri saya kehilangan sesuatu yang dipikir tidak akan kita dapatkan lagi. Padahal ... hal itu tidak sepenuhnya benar. Bisa saja, dari hal yang kita lepaskan akan muncul hal lain yang lebih baik atau mampu kita jalani.
Oke, apa yang membedakan prioritas waktu dengan melepaskan? Menurut saya, memprioritaskan waktu berarti tidak ada kegiatan yang dikurangi (atau diganti) hanya membagi waktu. Sementara melepaskan kesibukan menerima konsekuensi tidak terlibat pada suatu kegiatan tersebut bahkan bisa saja awalnya kita terlibat akhirnya harus mengundurkan diri atau tidak melanjutkan. Bukan berarti kita tidak ada simpati namun ada hal, keraguan, sakit hati, atau isi hati manusia lain yang dapat membuat kita tidak maksimal menjalankan kegiatan tersebut (tidak menutup kemungkinan menjalankan dengan terpaksa lalu menjadi senang). Tetapi segala kepedihan tersebut bukan berarti alasan untuk undur dalam pelayanan, nah yang ini bakal kita bahas di topik selanjutnya!
Ada pula melepaskan versi 'relasi'. Kita senang berelasi dengan orang tersebut, namun orang itu tak kunjung memberi respon baik. Nah sebenarnya perlu kita intropeksi. Apa yang menjadi hambatan dalam relasi, cara berbicara, cara gaul, atau pola pikir? Kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk selalu menjadi fit dengan kita maupun sebaliknya. Memang ada orang yang bisa nyambung ke semua orang, namun kenyataannya tidak semua orang bisa kita hold. Ada kalanya, relasi itu hanya sebatas koneksi (apalagi setelah bergaul lama tapi orang yang kita anggap dekat tapi ... sebenarnya tidak). Sebel, tapi itu kenyataannya. Disaat itulah secara hati kita melepaskan orang tersebut dan terus hidup dengan atau mencari relasi lain. Hanya saja kita tetap berelasi dengan orang yang menurut kita tidak satu frekuensi dengan baik juga batasan umum.
Apalagi jika sikap dan kepribadian orang tersebut justru membuat kita jatuh dalam pencobaan ... nah ini bener-bener butuh keberanian diri sendiri untuk memahami dan intropeksi dalam relasi tersebut.
Nah, mental untuk melepaskan merupakan salah satu cara pertumbuhan (saya).
Tidak selalu yang kita doakan akan terkabul, tidak semua kesusahan itu tidak pernah berakhir, namun cara untuk melepaskan adalah keniatan diri tahu dengan jelas bahwa hal tersebut harus dilepaskan beserta konsekuensi. Kepasrahan juga menjadi kunci untuk kita melepaskan dimana kita tidak menjadi pasif, tapi tetap beraktivitas dan doa sambil melihat dan mendengar bagaimana Tuhan menunjukkan hal tersebut harus selalu kita pegang erat atau tidak.
Manusia memikirkan rencana namun Tuhan lah yang mengarahkan jalannya.
Bagaimana versi 'melepaskan' dalam hidup mu?
Bagaimana versi 'melepaskan' dalam hidup mu?
From,
Asian Girl
Comments
Post a Comment